Peristiwa Fathu Mekkah

Pada postingan ini kita akan mencoba mengurai materi tentang Fathu Makkah. Baik Alur kejadian peristiwa tersebut tidak terlepas dari peran Nabi Muhammad SAW.
Sebagai ilustrasi singkat adalah karena adanya pengkhianatan suku Quraisy atas perjanjian Hudaibiyah yaitu penyerangan Bani Bakar ( sekutu Quraisy ) atas Bani Khuzaah (sekutu kaum Muslimin ). Karena penyerangan tersebut Amru bin Salim al Khuza’i mengabarkan kepada Rasulullah tentang pelanggaran perjanjian tersebut oleh Bani Bakar.

Atas kejadian tersebut Rasulullah pada bulan Ramadhan tahun 8 H bersama 10.000 kaum Muslimin dan di tambah sekutu 2000 orang berjalan menuju kota Makah. Sebelum melanjutkan perjalanan Rasulullah memberikan nasehat kepada seluruh pasukan untuk menghindari pertumpahan darah. Apa dan bagaimana terjadinya Fathu Makah maka materi berikut inilah yang akan menjawabnya.

Sebab-sebab Fathul Makkah
Pada bulan Zulqa’dah tahun 6 H, atau bertepatan dengan tanggal 6 Maret 628 M, Rasululullah SAW bersama 1.400 kaum muslimin bermaksud melakukan ziarah ke Baitullah untuk Umrah. Demi menghilangkan prasangka buruk kaum kafir quraisy, kaum muslimin berangkat dengan memakai pakaian ihram, mereka tidak membawa peralatan perang kecuali pedang dan sarungnya sebagai alat untuk menjaga diri.

Kedatangan Rasulallah dihalang-halangi oleh kaum kafir Quraisy, mereka tidak percaya kalau kedatangan kaum muslimin ke Makah semata-mata hanya untuk beribadah. Mereka memblokir jalan menuju ke Makkah sehingga Nabi Muhammad SAW dan sahabat tidak dapat memasuki kota Makkah dan berhenti disuatu tempat perbatasan antara Makkah dan Madinah yang bernama Hudaibiyah.

Karena kejadian tersebut Nabi Muhammad SAW mengutus Utsman bin Affan untuk menjelaskan kedatangan rombongannya kepada kaum kafir quraisy Makkah bahwa maksud kedatangan rombongan kaum muslimin adalah untuk melaksanakan ibadah Umrah. Dengan penjelasan Utsman bin Affan kaum kafir Quraisy tidak percaya, bahkan mereka menahan Utsman bin Affan. Ketika mendengar Utsman bin Affan ditahan dan akan dibunuh, pada saat itulah kaum Muslimin mengadakan sumpah setia dengan tekad menghadapi kaum kafir Quarisy dengan berkorban jiwa dan raga.

Dengan bantuan  kaum kafir quraisy akhirnya Bani Bakar di bawah pimpinan Naufal mengepung Bani Khuza’ah di Al Watir. Penyerangan ini terjadi pada malam hari dan menewaskan beberapa orang khuzaah. Menurut Perjanjian Hudaibiyyah anatar kaum kafir quraisy dengan kaum muslimin tidak saling menyerang selama 10 tahun. Namun baru 2 tahun perjanjian damai itu berlangsung kaum kafir quraisy telah melanggar.

Amr Bin Salim Al Khuza’i dari Bani Khuza’ah melaporkan peristiwa tersebut kepada Rasullah SAW antara lain :
1. Kaum Quraisy mengingkari perjanjian damai, mereka ikut dalam penyerangan kepada Bani Khuzaah.
2. Bani Khuzaah dalam pengepunganselama beberapa hari
3. Bani Khuzaah banyak yang meninggal dalam penyerangan tersebut.

Karena kejadian tersebut kemudian Rasulullah menyiapkan pasukan untuk membebaskan kota Makkah dari para pengkhianat tersebut. Rasullah SAW menyatakan bahwa kaum kafir quraisy telah melanggar Perjanjian Hudaibiyyah. Pembebasan ini yang nantinya dikenal Fathul Makkah.
Fathul Makkah berarti terbukanya kota makkah atau dapat diartikan juga sebagai penaklukan kota Makkah. Penaklukan tersebut merupakan suatu kemenangan terbesar bagi Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Karena dengan terbukanya kota Makkah terpancarlah sinar Islam ke seluruh dunia.

Salah satu penyebab terjadinya penaklukan kota Makkah adalah karena kaum kafir quraiys dengan sengaja melanggar perjanjian hudaibiyyah. Mereka membantu Bani Bakar menyerang Bani Khuza’ah yang telah menjadi pengikut islam. Sejak masa jahiliyah Bani Bakar dan Bani Khuza’ah sudah saling bermusuhan, setelah perjanjian damai, kabilah khuza’ah menyatakan diri masuk islam dan bergabung dengan kaum muslimin. Sesuai dengan perjanjian hudaibiyyah setiap kabilah bebas bergabung kepada pihak mana saja yang mereka kehendaki.

Perjanjian Hudaibiyah
Sumpah setia kaum Muslimin itu akhirnya terdengar kaum kafir quraisy. Mereka merasa gentar dan khawatir. Kaum kafir quraisy akhirnya mengirimkan utusan perdamaian bernama Suhail bin Amr. Bersamaan dengan itu mereka melepaskan Utsman bin Affan dan perjanjian tersebut dinamakan Perjanjian Hudaibiyah. (Sulhul Hudaibiyah)

Adapun isi Perjanjian Hudaibiyah adalah sebagai berikut :
1. Antara kaum kafir quraisy dan kaum Muslimin tidak saling menyerang selama 10 tahun dan tidak menyerang sekutu masing-masing.
2. Umat islam tidak berhaji pada tahun ini (628 M), umat Islam diperbolehkan haji pada tahun berikutnya (629 M).
3. Orang kafir quraisy yang melarikan diri dari Madinah harus dikembalikan ke Makkah, tetapi pelarian dari Madinah tidak dikembalikan.

Perjanjian tersebut ditulis oleh Ali bin Abi Thalib sebanyak 2 lembar untuk diserahkan kepada keduabelah pihak. Perjanjian tersebut ditanda tangani oleh keduabelah pihak, dari pihak quraisy diwakili oleh Suhail bin Amr dan dari pihak kaum Muslimin ditandatangani oleh Rasulullah sendiri.
Perjanjian Hudaibiyah sepintas merugikan kaum Muslimin, tapi pada kenyataannya mempunyai hikmah yang besar untuk menyiarkan agama Islam ke seluruh umat manusia. Bani Bakar sangat marah ketika mendengar Bani Khuza’ah bergabung dengan kaum muslimin. Sehingga mereka meminta bantuan kepada kaum quraisy untuk menyerang Bani Khuza’ah. Hal ini adalah awal dari pengkhianatan yang dilakukan oleh kaum kafir quraisy terhadap isi Perjanjian Hudaibiyyah.

Rencana Rasulullah SAW untuk membebaskan kota Makkah ini terdengar oleh pembesar Quraisy. Para pembesar Quraisy merasa khawatir dan ketakutan karena menyadari bahwa mereka telah melanggar Perjanjian Hudaibiyah. Abu Sufyan pun diutus untuk berunding dengan Rasulullah SAW. Dia meminta agar Perjanjian Hudaibiyah diperpanjang. Akan tetapi Rasullah SAW tidak menjawab sama sekali. Abu Sufyan pun meminta bantuan Abu Bakar agar membicarakannya dengan Rasulullah SAW. Namun Abu Bakar menolak permintaan Abu Sufyan tersebut. Kemudan Abu Sufyan mendatangi Umar bin Khottob dengan maksud yang sama. Akan tetapi Umar bin Khottob menolak dengan tegas. Akhirnya Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan tangan hampa.
Lantas, bagaimana cerita selanjutnya… Untuk lebih jelasnya mari kita pelajari materi berikut ini
              .
Terjadinya Fathul Makkah
Pada tanggal 10 Romadlon 8 H. Rasulullah berangkat ke Makkah. Ketika Rasulullah dan pasukan muslim yang sudah dikelompokkan tiba di daerah Marruz  Zhahran dan berkemah, para pemimpin Quraisy mengadakan perundingan yang akhirnya Abu Sufyan untuk mnyelidiki hal tersebut.
Dalam penyelidikan itu, Abu Sufyan menemui  Rasulullah SAW, kemudian ia masuk Islam. Rasulullah SAW pun memberi penghormatan kepada Abu Sufyan untuk menjadi pelindung bagi kaum quraisy. Oleh karena itu, ketika Abu Sufyan tiba di Makkah, dengan keras ia memperingatkan kaumnya untuk segera berlindung ke rumahnya, ke Masjidil Haram, atau tetap di rumah amsing -masing agar selamat dari pasukan Islam..

Sebagian besar dari mereka menuruti perintah Abu Sufyan. Tetapi sebagian lagi ada yang berusaha meghadapi pasukan Islam dengan berhimpun bersama Ikrimah bin Abu Jahal, Shofwan bin Umayyah, Suhail bin Amr Khamdanah, dan Hammah bin Qais yang mempersiapkan senjatanya. Namun usaha mereka gagal, karena ketika mereka langsung berhadapan dengan pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Al Walid dan sempat terjadi pertempuran, merekapun melarikan diri..
Sebelum bergerak memasuki kota Makkah, Rasulullah berpesan agar menghindari pertempuran dan pertumahan darah kecuali dalam keadaan terdesak. Karena kota Makkah adalah  tempat yang diharamkan untuk melakukan peperangan di dalamnya, kecuali untuk mempertahankan diri.

Pada tanggal 20 Romadlon 8 H. Rasulullah SAW dan kaum muslimin memasuki kota Makkah tanpa perlawanan yang berarti. Rasulullah SAW menuju Ka’bah dan mendatangi Hajar Aswad kemudian menciumnya. Setelah melakukan tawaf [ mengelilingi Ka’bah ] Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk menghancurkan seluruh berhala yang ada di sekitar Ka’bah yang berjumlah sekitar 360 buah. Tidak henti-hentunya Rasululah SAW dan kaum muslimin mengumandangkan takbir sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan dan keselamatan mereka dalam menaklukkan kota Makkah.

Setelah mengerjakan sholat, Rasulullah SAW menemui kaum  Quraisy yang telah memenuhi Masjidil Haram. Orang-orang Quraisy yang dahulu memusuhi, menghina,mencaci bahkan mengancam dan merencanakan akan membunuh Nabi Muhammad SAW. Kini tertunduk di hadapannya. Kalau saja Rasulullah SAW.seorang pendendam tentu beliau dengan mudah dapat membunuh mereka semua. Namun Nabi Muhammad SAW adalah seorang  Rasul kekasih Allah SWT yang memiliki akhlak mulia. Segala perlakuan buruk yang pernah kaum kafir lakukan padanya, beliau maafkan dengan tulus ikhlas. Kepada kaum kafir Quraisy, Nabi Muhammad SAW berkata : Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya Allah SWT telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah. Aku  katakan kepada kalian seperti yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaraya. Pada hari ini aku telah mengampuni kalian. Maka pergilah kalian.

Setelah Ka’bah bersih dari berhala, maka Rasulullah SAW menyerahkan kunci dan kepengurusan kakbah kepada Utsman bin thalhah. Hal itu dilakukan karena Rasulullah SAW tidak menginginkan kekuasaan atas kota makkah. Beliau ingin membersihkan makkah dari berhala-berhala agar penduduk makkah tidak lagi menyembah berhala melainkan menyembah Allah SWT.

Subscribe to receive free email updates: