Khlifah Ali Bin Abi Talib

khalifah ali bin abi thalib

Ali bin Abi Talib lahir di Mekah pada tahun 600 M. Ia merupakan putra Abu Talib, paman Nabi Muhammad saw. Nama kecilnya adalah Haidarah.

Sejak berusia 6 tahun, Ali bin Abi Talib diasuh oleh Nabi Muhammad saw. Ia masuk Islam saat usia 9 tahun. Ia adalah golongan pertama kali yang masuk Islam dari kalangan anak-anak atau remaja.
Pada saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, untuk menghindari kekejaman kaum Quraisy. Ali bin Abi Thalib di perintahkan untuk berada di kediaman Nabi, dimaksud supaya kaum Quraisy menganggap Nabi masih berada di rumah. Dengan demikian Ali merupakan orang pertama yang menjadi tebusan atau fida’ bagi Nabi Muhammad.

Setahun setelah Nabi Hijrah ke Madinah, Ali bin Abi Talib dinikahkan dengan putri nabi, yaitu Fatimah. Ketika itu Ali berusia 20 tahun, sedangkan Fatimah berusia 15 tahun. Karena Ali bukanlah orang yang berharta, ia menjual baju besinya dan uangnya ia gunakan untuk mas kawin.
Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sederhana. Namun ia juga dikenal sebagai seorang yang terkenal gagah berani saat di medan perang. Nabi Muhammad memberikan sebilah pedang yang bernama zul-faqar kepada Ali.

Selain sederhana, dan gagah berani, Ali juga memiliki kecerdasan. Ia dikenal banyak menguasai ilmu agama, bahkan nabi pernah bersabda “ Aku kota ilmu pengetahuan, sedangkan Ali pintu gerbangnya”

Ketika Nabi Muhammad wafat, Ali menunggui jenazahnya dan mengurus pemakamannya.
Ali bin Abi Talib banyak mengkritik kebijakan Usman bin Affan saat menjabat sebagai Khalifah. Karena Khalifah Usman bin Affan terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya.

Ali bin Abi Talib sebagai Khalifah

Sepeninggal Usman bin Affan menjabat Khalifah, Ali di tunjuk menjadi penggantinya. Sebenarnya Ali bin Abi Thalib menolak untuk menjabat sebagai Khalifah.
Kebijakan Ali saat menjabat sebagai Khalifah
- Mengganti para pejabat yang diangkat oleh Usman bin Affan
- Mengambil tanah yang telah dibagikan oleh Usman kepada kerabatnya tanpa tujuan yang jelas
- Memberikan tunjangan kepada kaum muslimin yang diambil dari Baitul Mal
- Mengatur urusan pemerintahan
- Meninggalkan kota Madinah dan menjadikan kota Kufah sebagai pusat pemerintahan.

Pemberontakan pada saat Ali menjadi Khalifah

Terbunuhnya Usman bin Affan menjadi permasalah yang sulit bagi Ali bin Abi Talib. Banyak pihak yang menuntut agar Ali menangkap pembunuh Usman. Jika Ali tidak segera menangkap dan mengukumnya Ali dianggap sebagai orang di balik pembunuhan Usman bin Affan. Karena situasi tersebut muncul pemberontakan-pemberontakan atau peperangan

Pemberontakan/perang Jamal

Pemberontakan ini dikomandoi oleh Talhah, Zubair, dan Aisyah. Ketiga orang ini menunt bela kematian Usman bin Affan. Mereka menyusun pemberontakan di kota Basra. Ali mengetahui keadaan ini. Ia mencoba untuk menyelesaikan dengan jalan damai. Namun Talhah dan Zubair tidak mau menanggapi. Akhirnya terjadi peperangan.

Pada saat peperangan tersebut Aisyah mengendarai Unta, oleh sebab itu perang ini dikenal dengan perang Jamal. Ali berhasil mengalahkan perlawanan Talhah, Zubair dan Aisyah.

Pemberontakan  Mu’awiyah bin Abu Sufyan

Mu’awiyah bin Abu Sufyan dari awal tidak setuju dengan dipilihnya Ali sebagai Khalifah. Ia beserta para pendukungnya tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Mereka menganggap jika Ali bersekongkol dalam pembunuhan Usman bin Affan. Mereka menuntut Ali menghukum pembunuh Usman bin Affan.
Mu’awiyah bin Abu Sufyan adalah seorang gubernur yang ditunjuk pada masa Usman bin Affan. Saat Ali menjabat sebagai khalifah, Mu’awiyah diminta untuk mundur dari jabatannya sebagai gubernur.
Namun Mu’awiyah dan pengikutnya mempersiapkan untuk memberontak terhadap Ali. Akhirnya perang terjadi di sebuah lembah yang bernama Siffin. Maka perang ini dikenal dengan nama Perang Siffin.
Saat pasukan Mu’awiyah berada dalam ambang kekalahan, tiba-tiba Amru bin Ash meminta Mu’awiyah dan Ali berdamai. Amru bin Ash adalah penasehat Mu’awiyah, yang dikenal cerdik dan licik. Ali menyetujui permintaanya.
Terjadilah perundingan, yang istilahnya adalah tahkim atau arbitrase.
Pihak Mu’awiyah diwakili Amru bin Ash.
Pihak Ali diwakili Abu Musa al-Asy’ari.

Kedua orang tersebut berunding. Hasil perundingannya adalah : Baik Ali maupun Mu’awiyah harus mundur dari jabatannya. Setelah mundur, kaum muslimin di minta untuk memilih Khalifah yang baru. Mereka sepakat kedua belah pihak sepakat menerima hasil keputusan.
Keputusan itu kemudian disampaiakan ke depan kaum muslimin.

Amru bin Ash meminta Abu Musa menyampaikan untuk pertama hasil keputusan.
Abu Musa maju ke depan dan mengumumkan pengunduran diri  Ali bin Abi Talib sebagai Khalifah. Kemudian giliran  Amru bin Ash mengumumkan. Namun yang diucapkannya berbeda dengan keputusan musyawarah. Amru bin Ash, mengumumkan setelah Ali bin Abi Talib mundur, maka yang menjabat sebagai Khalifat adalah Mu’awiyah.

Pendukung Ali menyadari kecurangan dan kelicikan dari pihak Mu’awiyah. Mereka meminta Ali untuk kembali berperang dengan pihak Mu’awiyah. Namun Ali menolak untuk kembali berperang, karena ia telah berjanji untuk menerima hasil keputusan dalam perundingan.
Keputusan Ali bin Abi Talib untuk tidak kembali berperang, menimbulkan sebagian pendukungnya marah kepad Ali dan orang-orang ini menyatakan diri keluar atau memisahkan diri dari golongan Ali. Golongan ini kemudian dikenal sebagai Golongan Khawarij. Arti Khawarij adalah orang yang keluar.

Pemberontakan Khawarij

Khawarij menyatakan perang terhadap Ali dan juga kelompok Mu’awiyah. Keadan Ali menjadi sulit. Kini yang memusuhinya tidak hanya Mu’awiyah namun juga golongan Khawarij. Ali memutuskan perang terhadap Khawarij. Peperangan terjadi di Nahrawan. Perang ini disebut perang Nahrawa. Ali berhasil memukul pasukan Khwarij, pemimpin mereka Abdullah bin Wahhab ikut terbunuh.

Akhir Kekhalifahan Ali

Dukungan keuangan yang besar membuat kekuatan Mu’awiyah semakin bertambah kuat.  Mu’awiyah secara sepihak menaklukan Mesir dan akhirnya Mesir berada dalam kekuasaan Mu’awiyah.

Dipihak lain, Terbunuhnya Abdullah bin Wahab menjadikan kaum Khawarij semakin dendam. Mereka menyusun siasat untuk membunuh Ali bin Abi Talib, Mu’awiyah,  dan Amru bin Ash. Kaum Khawarij menganggap bahwa mereka adalah orang yang bertanggungjawab atas perpecahan umat Islam.

Mereka mengirimkan tiga orang untuk membunuh mereka, yaitu
- Abdurahman bin Muljam bertugas membunuh Ali
- Abdillah at-Tamimi bertugas membunuh Mu’awiyah
- Amr bin Bakar at-Tamimi bertugas membunuh Amru bin Ash

Hanya Abdurahman bin Muljam yang berhasil melaksanakan rencana jahat tersebut. Ia membunuh Ali bin Abi Talib saat sedang salat Suhuh pada tanggal 17 bulan Ramadhan tahun 40 H (661 M).
Ali menjadi khalifah kurang lebih 4 tahun, sembilan bulan. Ia meninggal dalam usia 60 tahun. Ali bin Abi Talib menjadi khalifah yang terakhir.

Subscribe to receive free email updates: