Strategi Pembelajaran Pecahan

Strategi  Pembelajaran Pengenalan Pecahan

Materi pecahan merupakan salah satu materi yang di ajarkan di jenjang Madrasah Ibtidaiyah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Materi Pecahan sudah diajarkan dimuali di kelas empat. Di kelas lima dan enam pun ada materi tersebut.

Materi pecahan merupakan materi pelajaran matematika yang tergolong sulit bagi siswa untuk memahaminya. Untuk itu bagi guru harus pandai menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan mampu memberikan motivasi bagi siswa untuk terus belajar tentang materi ini.

Untuk menyampaikan materi ini, siswa perlu dirangsang pemahamannya. Karena kita tahu bahwa secara psikologis siswa madrasah ibtidaiyah masih senang dengan permainan dan masih belum memahami konsep-konsep abstrak. Untuk itulah sebagai guru perlu menjembatani keadaan tersebut dengan peralatan-perlatan yang konkret. Pendekatan yang tepat untuk menyampaikan materi ini adalah pendekatan kontestual. Yaitu pendekatan yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata. Dunia yang mudah dicerna oleh pemikiran siswa.

strategi pembelajaran pecahan

Pembelajaran Pecahan
Begitu pun dalam menyampaikan pembelajaran Pecahan. Sebelum guru meberikan materi pecahan, guru harus memberikan pemahaman siswa tentag apa itu pecahan. Salah satu cara mengawali pembelajaran pecahan adalah dengan bentuk bercerita. Salah satu contohya adalah sebagai berikut :
“ Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, selanjutnya guru dapat melakukan appersepsi terlebih dahulu. Setelah kegiatan awal dilakukan, selanjutnya memasuki kegiatan inti pembelajaran.

“ Untuk memulai pembelajaran hari ini, bapak mempunyai sebuah cerita” guru menyampaikan dengan mimik serius tentunya. Diharapkan semua siswa dengan kesadaran sendiri akan serius dan memperhatikan guru. Jika masih ada siswa yang belum memperhatikan dan belum siap menerima pelajaran, guru dapat memanggil siswa tersebut, “ Hai, Iwan, kamu ingin tahu tidak jika pak guru ada sebuah cerita”

Setelah semua siswa siap, guru dapat melanjutkan ceritanya.
“ Dulu saat babak kecil, hidup bapak tidaklah seperti kalian sekarang ini. Kami hidup pas-pasan, bahkan kadang kekurangan. Anak-anak, tahukah jika pak guru mempunyai 3 orang saudara kandung. Sehingga anak orang tua bapak ada empat. Karena hidup keluarga pak guru pas-pasan, suatu hari ibu pak guru memasak lauk berupa telur dadar. “ ( untuk memfokuskan siswa guru, kemudian menggambarkan telur dadar tersebut dengan sebuah lingkaran di papan tulis). Kemudian guru melanjutkan “ Karena jumlah anak empat anak, ibu pak guru harus membagi telur itu sebanyak empat dengan sama besar, tentunya”

“ Lihat pak guru mendapat bagian ini, yaitu satu dari empat bagian”, (telur bagian pak guru diarsir), kemudian guru melanjutkan “ telur ceplok bagian pak guru jika ditulis secara matematis akan seperti ini ¼ “ , Kemudian guru menanyakan kepada siswa berapa bagian yang bukan milik pak guru. “ Berapa bagian yang lain yang bukan milik pak guru, coba lihat” sambil menunjukan lingkaran dan bagian yang tidak diarsir. Siswa menjawab “ ¾ bagian, pak guru”. Jika tidak ada siswa yang menjawab, guru dapat membantu dengan cara menghitung bagian yang tidak diarsir.

Selanjutnya guru memanggil salah satu siswa, “ Hai, Abu..berapa jumlah saudara kamu”, Abu menjawab “ Dua pak guru”, “ Jadi jumlah anak bapak ibu kamu seluruhnya berapa?”, “ Tiga pak!”
Guru selanjutnya mempersilahkan si Abu untuk menggambarkan telur dadar berupa lingkaran di papan tulis kemudian membagi menjadi tiga bagian, Guru menegaskan si Abu berapa bagian telurnya. Abu menjawab 1/3 bagian. 1/3 bagian tersebut kemudian diarsir.

Guru dapat menanyakan beberapa siswa tentang jumlah saudara, dan selanjutnya menuliskan bagiannya masing-masing dipapan tulis. Di tekankan dengan bagian yang berbeda-beda, misal ½, 1/3, ¼ , 1/5, dan seterusnya.
“ Anak-anak sekalian, apa yang sudah kita kerjakan tadi, sebetulnya kita sedang belajar tentang pecahan. Bilangan-bilangan ½, 1/3, ¼, 1/5, 2/3, ¾ , adalah bilangan pecahan”.

Selain menggunakan lingkaran dengan bentuk persegi panjang pun bisa dilakukan. Akan jauh lebih baik lagi jika masing-masing siswa membuat lingkaran atau persegi panjang dari kertas dengan ukuran yang ditentukan. Guru dapat langsung meminta siswa menggambarkan bilangan-bilangan pecahan dalam lingkaran tersebut atau persegi panjang dari kertas. Dengan cara ini siswa akan lebih aktif, pembelarannya efektif, dan kemungkinan besar siswa dapat lebih paham dari pembelajaran materi pecahan tanpa media bentuk seprti ini.

Siswa juga harus memahami istilah penyebut dan pembilang pada bilangan pecahan. Karena istilah ini menjadi istilah yang umum pada pelajaran matematika.

Jika semua siswa sudah memahami bilangan pecahan guru dapat melanjutkan materi dengan yang disesuaikan dengan indikator yang hendak di capai. Dan media lingkaran dan atau persegi panjang tadi, dapat dijadikan media belajar.
Bahan-bahan untuk pembelajaran pecahan

- Kertas (HVS, Kartoon, Kardus atau juga bisa menggunakan kertas bekas)
- Gunting, kater
- Pensil, spidol

Beberapa metode yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran pecahan antara lain :
- Demonstrasi. Siswa mendemontrasikan bentuk-bentuk pecahan dengan kertas tersebut.
- Tanya jawab
- Cerita
- Penemuan terbimbing
- Dll

Demikian tulisan tentang strategi pembelajaran pecahan  pada tingkat madrasah ibtidaiyah. Intinya guru harus kratif membuat alat peraga, dengan media alat peraga tersebut. Konsep dasar pecahan akan lebih mudah dipahami siswa, dibanding guru hanya menggambar di papan tulis tanpa diselingi dengan alat peraga dan juga sebuah cerita yang menyangkut kontekstual kehidupan anak.
 Tulisan ini sekedar tulisan semata yang jauh dari kata sempurna. Untuk itu dengan tulus kami mohon maaf, dan kritik saran kami harapkan di kolom komentar.



Subscribe to receive free email updates: