Bagaimana Mencari Ilmu seperti dalam Kitab Ta'limul Muta'alim?

Ilmu dan Pengetahuan adalah penting untuk terus dicari oleh manusia. Karena dengan ilmu dan pengetahuan tersebut, menjadikan manusia utuh sesuai dengan pemberian Allah berupa akal dan fikiran kepada manusia. Ilmu ibarat penerang, yang menerangi jalan kehidupan. 

Banyak tokoh dan ahli pendidikan yang merumuskan tentang hakekat ilmu dan pentingnya ilmu dipelajari. Pada tulisan ini kami sarikan tentang bagaimana mencari ilmu sehingga memperoleh manfaat dari ilmu tersebut. Tulisan ini kami ambil dari kitab Ta’limul Muta’alim yang dikarang oleh al Zarnuji yang sangat dikenal dikalangan pesantren. Dalam kitab ini diterangkan secara detail bagaimana seharusnya seseorang menuntut ilmu. 

Adapun hal-hal penting dalam kitab tersebut yang berhubungan dengan orang yang akan dan sedang menimba ilmu antara lain;

1. Keutamaan dan Hakikat Ilmu, Keutamaan dan Hakikat Fiqh
Mencari ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Hadits Rosul
ﻄﻠﺐﺍﻠﻌﻠﻢﻔﺮﻳﻀﺔﻋﻠﻰﻜﻞﻤﺴﻠﻢﻭﻤﺴﻠﻤﺔ
Seperti ilmu ma’rifat terhadap Alloh dan sifat-sifat wahdaniyahnya, mengetahui sifat sidik bagi Rosul, mengetahui ilmu sholat dengan bersuci yaitu ilmu ibadah.

2. Niat pada Saat Belajar
Pada hakikatnya niat itu menjadi dasar pokok dalam setiap pekerjaan. Pekerjaan dunia menjadi amal akherat karena niat yang baik, sebaliknya amal akherat menjadi amal dunia karena niat yang buruk. Sebaiknya orang yang mencari ilmu meluruskan niat bahwa mencari ilmu itu untuk mencari ridlo Alloh, syukuri atas nikmat Alloh berupa akal dan sehat badan. Jangan mencari ilmu dengan niat karena manusia, benda-benda dunia, karomah dihadapan pemimpin, atau lainnya.

3. Memilih Ilmu, Guru, Teman, dan Menetapkan Ilm
Orang yang mencari ilmu sebaiknya memilih ilmu yang lebih baik dan dibutuhan dalam perkara agama dan masa depan. Dalam memilih guru sebaiknya guru yang lebih pandai, wira’i, lebih tua, Ilmu dapat diperoleh dengan enam hal, yaitu: cerdas, tekun, sabar, punya biaya, memperoleh petunjuk guru, dan waktu yang lama. Dalam memilih teman sebaiknya yang wira’i, berwatak baik, dan memiliki kefahaman. Jauhi teman yang malas, suka nganggur, banyak bicara, merusak, dan suka memfitnah.

4. Memuliakan Ilmu dan Pemilik Ilmu
Bagi orang yang mencari ilmu tidak akan memperoleh ilmu atau ilmunya tidak bermanfaat kecuali dengan memuliakan ilmu dan pemiliknya.  Hormat kepada guru dapat dilakukan dengan cara: jangan berjalan di depannya, jangan duduk di tempatnya, jangan mendahului bicara kecuali dengan seizin guru, jangan banyak bicara di depannya, jangan bertanya sesuatu ketika guru bosan, menjaga waktu, tidak membuka pintu sehingga sabar sampai guru keluar, memuliakan anak dan keluarganya.

Memuliakan kitab dilakukan dengan cara mengambil kitab dalam keadaan suci, berwudlu, karena cahaya ilmu akan bertambah dengan berwudlu, kaki tidak diluruskan ke kitab, meletakan kitab tafsir di atas kitab lainnya, tidak boleh meletakan pena di atas kitab kecuali terpaksa, tidak memutus kitab, tidak meletakan sesuatu yang berwarna merah dalam kitab.

Orang yang mencari ilmu sebaiknya memuliakan teman-teman guru dan orang-orang yang berhubungan dengannya, mendengarkan ilmu dengan hormat dan ta’zim, meminta pendapat guru dalam memilih ilmu yang dipelajari, jangan terlalu dekat duduk dengan guru ketika belajar kecuali terpaksa, dan menjaga diri dari akhlak tercela

5. Bersungguh-sungguh, Kontinuitas, dan Memiliki Cita-Cita
Wajib bagi orang yang mencari ilmu untuk bersunggguh-sungguh karena dengan bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Dalam belajar dan mencari ilmu dibutuhkan kesungguhan tiga komponen, yaitu: orang yang belajar, guru, dan orang tua. 

Wajib bagi pencari ilmu untuk terus belajar dari awal hingga akhir malam, antara waktu Maghrib dan Isya serta waktu sahur. Mempergunakan waktu muda sebaik-baiknya, jangan mempersulit diri sendiri, tetapi dilaksanakan dengan pelan.

Wajib bagi orang yang mencari ilmu bercita-cita yang luhur karena seseorang dapat terbang dengan cita-citanya, seperti burung yang terbang dengan sayapnya. Cita-cita diimbangi dengan kesungguhan, tidak bermalas-malasan. 

6. Awal Belajar, Kapasitas, dan Tertib Belajar
Menurut Syeikh Islam Burhanudin ra, memastikan permulaan belajar sebaiknya pada hari Rabu karena pada hari Rabu Alloh mencipkan cahaya, dan hari Rabu merupakan hari sial bagi orang kafir, berarti hari berkah bagi orang mukmin.Permulaan belajar sebaiknyamengulang dua kali sepanjang yang dihafal, kemudian ditambah sedikit demi sedikit setiap hari. 

Murid dianjurkan serius memahami pelajaran langsung dari guru dengan cara meresapi, memikirkan, dan banyak mengulang pelajaran, dianjurkan pula berdoa kepada Alloh dan bertadlarru. Pelajar juga harus melakukan diskusi dalam bentuk mudzakaroh (tukar pendapat), munadhoroh (saling mengkritisi pendapat masing-masing), dan muthorohah (ada pendapat untuk mencari yang paling benar). 
Pelajar hendaknya menentukan target yang pas untuk hafalannya sendiri, berulang-ulang, dengan suara yang penuh semangat, tidak ada jeda dalam belajar dan hafal di luar kepala.

7. Tawakal
Pelajar harus bersikap tawakal dalam menuntut ilmu, tidak digelisahkan urusan duniawi, sanggup bersusah payang dalam perjalanan belajar, dan tidak terperdaya  sesuatu apapun selain ilmu.

8. Waktu Keberhasilan
Waktu belajar semenjak dari ayunan sampai liang lahat,  dianjurkan bagi pelajar memanfaatkan waktu yang ada, jika jenuh dengan satu buku maka berganti dengan yang lain.

9. Kasih Sayang dan Nasihat
Bagi orang alim dianjurkan bersikap penyayang, suka menasihati, dan tidak dengki. Sifat dengki berbahaya dan tidak bermanfaat.Orang alim sebaiknya tidak bertikai dan memusuhi orang lain karena hanya akan menghabiskan waktu sia-sia.

10. Istifadah (Mengambil Manfaat)
orang yang menuntut ilmu dianjurkan untuk beristifadah sepanjang waktu sehingga mencapai keunggulan dan sukses ilmunya dengan mencatat segala ilmu pengetahuan yang didengar, memanfaatkan sesepuh dan memetik pelajaran dari mareka, sanggup menanggung derita dan hina, berkasih sayang dengan guru, teman-teman sebangku pelajaran, dan para ulama agar mudah memetik pengetahuan dari mereka.

11. Waro’ (Menjaga Diri dari Hal yang Haram)
Pelajar yang waro’ ilmunya bermanfaat, belajarnya mudah dan faedahnya melimpah, hendaknya menghindari makan makanan pasar karena cenderung najis dan kotor, ketika belajar hendaknya menghadap kiblat, tidak mengabaikan adab dan perbuatan sunnah.

12. Penyebab Hafal dan Penebab Lupa
Penyebab  paling kuat agar mudah hafal adalah kesungguhan, kontinuitas, minimasi makan, dan sholat malam, bersiwak. Penyebab lupa adalah perbuatan maksiat, banyak berbuat dosa, keinginan dan kegelisahan perkara duniawi, serta terlalu banyak kesibukan dan urusan duniawi.

13. Sumber dan Penghambat Rezeki, Penambah, dan Pemotong Usia
Berbuat dosa, banyak tidur penyebab tertutupnya rizki, untuk memperolehnya, mengerjakan sholat dengan khusyu’,menyempurnakan semua rukun, wajid, sunnah dan a mengerjakan sholat dhuha, agar panjang umur:  berbakti,tidak mengganggu orang, dan bersilaturohim.

Demikian beberapa ketentuan bagi pencari ilmu menurut kitab Ta’limul Muta’alim, semoga bermanfaat. 
           


Subscribe to receive free email updates: