Contoh PTK Role Playing Bab Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pengaruh  globalisasi yang terjadi dengan ditandai berbagai akses informasi yang  dengan mudah di akses memiliki berbagai dampak berbagai bidang. Era globalisasi tidak mungkin dapat di cegah hanya dengan beberapa kebijakan dan aturan. Banyak dijumpai baik secara langsung dan tidak langsung, para pejabat, pengambil kebijakan, perumus aturan juga terjerebak dalam situasi yang tidak mencerminkan budaya timur yang sopan dan santun.
Efeknya anak-anak sebagai tulang pewaris bangsa. Penerus kita, juga banyak yang berbudaya yang mereka lihat. Sopan santun berkurang, ungah-ungguh ditingalkan, toleransi, menghargai pendapat orang lain kian hilang pada diri anak.
Tidak ada hal yang dapat membentengi pengaruh buruk dari situasi yang ada sekarang, kecuali pendidikan. Pendidikan yang bagaimana? Pendidikan yang beriorentasi terhadap nilai-nilai karakter yang dapat membudayakan generasi penerus bangsa ini.
Perlu paradigma baru dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus diubah dalam cara dan tujuannya. Perubahan pendidikan tidaklah harus frontal seperti mengubah ubah kurikulum. Namun dari hal kecil. Misal, bagaimana cara guru dapat menerapkan model-model pembelajaran yang inovatif. Bagaimana guru dapat membuat alat peraga yang inovatif dan kreatif. Bagaimana guru dapat bekerja tanpa harus memikirkan kebutuhannya sehari-hari. Mengubah paradigma pendidikan sebetulnya sederhana.
Pada masa transisi atau proses perjalanan bangsa menuju Pendidikamasyarakat madani (civil sociaty) pendidikan kewarganegaraan sebagai salah satu mata pelajaran  di persekolahan perlu menyesuaikan diri sejalan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang sedang berubah. Proses pembangunan karakter tangsa yang sejak proklamasi kemerdekaan RI telah mendapat prioritas, perlu direvitalisasi agar sesuai dengan arah dan pesan konstitusi negara RI. Pada hakekatnya proses pembentukan karakter bangsa di harapkan mengarah pada penciptaan suatu masyarakat Indonesia yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai titik sentral [1]
Bangsa yang maju tidak akan pernah meninggalkan kualitas pendidikan. Pendidikan yang berkualitas harus di bangun diatas nilai-nilai universal. Pendidikan bukan sebatas fakta-fakta ilmiah, bukan pula hafalan-hafalan sejarah. Pendidikan formal yang ada di Indonesai, memiliki berbagai permasalahan yang menuntut adanya perubahan.
Dalam undang-undang menyebutkan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2]
PKn merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah. Pkn mengemban misi untuk membentuk karakter siswa yang Pancasilais. Yang memiliki roh ketimuran. Untuk itu seyogyanya Pkn  bukan menjadi mata pelajaran kelas dua. Dan proses pembelajaran Pkn di sekolah-sekolah harus diubah. Dari yang terpusat pada aspek kognitif beralih ke aspek afektif. Karena titik tumpuan Pkn ada pada aspek afektif.
Kemampauan yang ada pada siswa mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dari ketiga kemampuan yang dikembangkan dalam proses pembelajaran Pkn, pengembangan dan pembelajaran afektif dianggap sebagai hal yang paling sulit. Hal terbut karena masalah afektif terkait dengan masalah nilai. Unsur nilai adalah bidang yang tersembunyi. Oleh karena itu perlu ada strategi dan metode yang dapat mengungkap domain afektif dalam proses pembelajaran Pkn agar pembelajaran Pkn yang utuh dan layak dapat terlaksana sehingga tujuan Pkn, yakni membentuk warga negara yang cerdas dan baik tercapai. Untuk mencapai hal tersebut, peran guru sangat besar baik sebagai perencana, fasilitator, pengelola, bepengarah, penilai, maupun memberi keputusan[3]
Peningkatan pendidikan salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran agar potensi-potensi yang ada dalam diri siswa dapat tergali dengan baik dan berkembang dengan optimal. Kualitas pembelajaran dapat dilihat salah satunya bagaimana ketepatan metode pembelajaran dengan materi  yang dipelajarai. Metode pebelajaran adalah cara agar pesan materi terebut sampai kepada siswa, tanpa siswa merasa jenuh, terpaksa, dan tertekan.
Dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaaraan di MI GUPP Talagening pada kelas VI pada Pokok Bahasan Nilai-nilai juang dalam perumusan Pancasila ditemukan  proses kegiatan belajar mengajar yang;
a.       Guru monoton dalam menyampaikan materi. Guru hanya menerapkan metode ceramah, tanya jawab.
b.      Siswa tidak aktif. Siswa hanya duduk, mendengarkan, menjawab apabila ditanya dan mencatat.
c.       Siswa kesulitan dalam mengingat materi.
d.      Nilai hasil belajar siswa rendah.
Hal-hal  tersebut ditemukan pada   observasi  pada hari Selasa 3 September 2014. Dari pengamatan tersebut menunjukan Ketuntasan Belajar Siswa pada materi pokok Nilai-Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila hanya 15 % . Sangat jauh dari Ketuntasan belajar yang dipersyaratkan yaitu sebesar 80%. Artinya dari jumlah siswa kelas VI  MI GUPPI Talagening pada Tahun Pelajaran 2014/2015 , hanya ada tiga anak yang memperoleh nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dari 19 siswa.
Selain itu dalam pembelajaran tersebut sebagian besar siswa  kurang aktif. Baik dalam menjawab pertanyaan guru, maupun dalam hal mengajukan pendapat atau pertanyaan dari siswa kepada guru atau siswa lainnya.  Saat pembelajaran berlangsung beberapa siswa ditemukan sedang menggamar, membaca pelajaran lain, bahkan ada yang bermain kartu.
Untuk memecahkan permasalahan tersebut penulis mencoba menggunakan strategi pembelajaran yang berbasis PAIKEM. Hal tersebut beralasan bahwa penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat akan mengakibatkan siswa berkurang perhatian terhadap materi pelajaran. Sehingga memunculkan rasa jenuh dan bosan, dan pada akhirnya pada evaluasi pembelajaran siswa tidak dapat memperoleh nilai lebih dari Nilai Ketuntasan Minimal yang telah ditentukan.
Hal lain yang mendasari  penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Pokok Nilai-Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila adalah bahwa kompetensi dasar tersebut titik beratnya pada aspek afektif. Dengan mempelajari materi pokok Nilai-Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila diharapkan siswa dapat meneladani, sikap, sifat dan nilai-nilai yang ada dalam proses perumusan Pancasila, seperti, saling menghormati, toleransi, mengedepankan musyawarah. Materi poko tersebut juga menuntut siswa untuk dapat menerapkan nilai-nilai karakter yang di contohkan oleh para perumus dasar negara Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Baik di lingkungan madrasah, keluarga maupun masyarakat.
Jika tujuan pembelajaran tersebut dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab, maka tidak akan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Maka dengan dasar-dasar di atas, tepat dan sesuai bahwa materi pokok Nilai-nilai juang dalam perumusan Pancasila pada siswa kelas VI MI GUPPI Talagening untuk diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas.
Berdasarkan permasalahan yang diidentifikasi pada proses belajar mengajar mata pelajaran PKN pada murid kelas VI MI GUPPI Talagening di atas, maka salah satu pemecahan masalah yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan mengubah model pembelajaran yang digunakan ke arah pembelajaran yang dapat memberikan peluang kepada murid untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran role playing.
Alasan digunakan metode role playing ini antara lain agar;
1.      siswa tidak merasa jenuh ketika mereka belajar PKN di dalam kelas.
2.      siswa dapat memahami konsep Nilai-Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila yang dianggap pembelajaran yang membosankan.
3.      guru bisa merangsang siswa untuk ikut serta dan aktif dalam proses belajar , sehingga siswa fokus pada pembelajaran, 
4.      Melatih siswa secara langsung untuk belajar saling menghargai pendapat dan menjunjung tinggi musyawarah mufakat.
Apabila pada kegiatan belajar  materi pokok Nilai-Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila tidak segera diubah maka akan mengakibatkan Sikap dan hormat siswa terhadapat para tokoh pahlawan berkurang.Dampak pendidikan yang mengabaikan nilai-nilai moral dapat terlihat pada perilaku siswa sehari-hari yang kurang menghargai dan toleran terhadap teman, guru, orang tua dan juga jasa-jasa para pahlawan.
Atas dasar uraian tersebut di atas menjadikan dasar adanya  Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Peningkatan hasil belajar PKn Pokok Bahasan Nilai-Nilai Juang Dalam Proses Perumusan Pancasila Melalui Metode Role Playing di Kelas VI MI GUPPI Talagening Kecamatan Bobotsari Tahun Pelajaran 2014/2015”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan pada latar belakang maka objek yang akan di kaji dalam penelitian ini adalah;
Apakah penggunaan metode pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan hasil Belajar Siswa Materi Pokok Nilai-Nilai Juang Dalam  Proses Perumusan Pancasila pada Mata Pelajaran PKn Kelas VI MI GUPPI Talagening Tahun Pelajaran 2014/2015?”
C.    Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan metode pembelajaran Role Playing dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn Kompetensi Dasar Proses Perumusan Dasar Negara pada kelas VI MI GUPPI Talaegning Tahun Pelajaran 2014/2015.

D.    Manfaat Penelitian
Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul;  Peningkatan hasil belajar Pkn Pokok Bahasan Nilai-Nilai Juang Dalam Perumusan Pancasila melalui Metode Role Playing di Kelas VI MI GUPPI Talagening, Kecamatan Bobotsari Tahun Pelajaran 2014/2015” ini, diharapkan dapat bermanfaat, baik manfaat praktis maupun teoritis, yaitu :
            Manfaat Praktis
1.      Bagi Penulis
a.       Sebagai Tugas Akhir Program PGMI-S1 DMS STAIN Walisongo untuk memperoleh gelar kesarjanaan.
b.      Sebagai referensi dan dapat lebih mengedepankan metode inovatif pada pembelajaran di Madrasah tempat bertugas
2.      Bagi Madrasah
a.       Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn
b.      Tumbuhnya iklim pembelajaran siswa yang aktif di madrasah
c.       Sebagai bahan kepustakaan di Madrasah
3.      Bagi Guru
a.       Mengetahui metode pembelajaran yang tepat dan bervariasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pelajaran PKn
b.      Dapat menumbuhkan kreativitas dan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran PKn.

Manfaat Teroistik
Manfaat secara teoritis, yaitu: bahwa hasil penelitian dapat menjadikan sumbangan pemikiran bagi guru-guru dalam melaksanakan proses pembelajaran kepada peserta didik di dalam kelas.




[1] Kawuryan Sekar Purbarini, “Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar “, dalam http://library.unej.ac.id/client/search/asset/190, diakses 6 September 2014
[2] Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Sitem Pendidikan Nasional, Pasal 1, ayat (1)
[3] Supriadi, Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (Jakarta: direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag RI, 2009), hal. 120.

Subscribe to receive free email updates: