Memaksimalkan Kegiatan Inti Pembelajaran

Tahap kedua dalam proses pembelajaran yaitu kegiatan inti atau pokok kegiatan pembelajaran. Kualitas kegiatan inti pembelajaran memiliki hubungaan dengan kegitan awal (pembukaan) dengan demikian kualitas kegiatan inti pembelajaran ditentukan oleh hasil sebelumnya, yaitu pada saat melakukan pembukaan. Jika pada saat mengawali pembelajaran siswa sudah memiki arah yang jelas, maka dalam kegitan inti tidak akan mengalami kesulitan untuk beraktivitas. Perhatian dan motivasi siswa akan tercurah pada kegiatan pembelajaran. Dengan demikian seluruh energi yang dimilikinya dipakai untuk melakuakan aktivitas pembelajaran. Oleh karena itu kegiatan pembukaan jangan hanya dipandang sebagai kegiatan rutinitas melainkan harus direncanakan dan diciptakan dengan baik agar siswa dapat mengikuti proses kegiatan selanjutnya dengan baik pula.

Kegiatan inti pembelajaran pada dasarnya adalah kegiatan pokok siswa untuk mempelajari materi yang telah direncanakan. Pembelajaran adalah proses interaksi yaitu antara siswa dengan lingkungan pembelajaran termasuk di dalamnya materi pembelajaran. Dengan demikian kegiatan inti pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk mencapai tujuan kompetensi pembelajaran yang telah direncanakan.


Dalam sistem pembelajaran , guru merupakan pengendali lingkungan pembalajaran, tugas guru dalam kegiatan inti pembelajaran terutama adalah bagaimana memfasilitasi kegiatan belajar siswa untuk terjadianya proses pembelajaran. Sebagai fasilitator pembelajaran, guru dalam melakukan kegiatan inti pembelajaran tidak mendominasi kegiatan pembelajaran, melainkan bagaimana guru memfungsikan dirinya sebagai motivator untuk membangun aktivitas belajar siswa.

Dalam pandangan kontruktivisme srategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak sisiwa memperoleh dan mengingat pengetahuan Implikasi bagi guru dari pandangan kontruktivisme tersebut, yaitu utama dalam kegiatan inti pembelajaran guru bukan memberi informasi atau materi pembelajaran akan tetapi sebagai motivator yang dapat mengaktifkan siswa untuk mengolah informasi atau materi pembelajaran melalui mencari dan mengalami.

Unsur-unsur kegitan inti pembelajaran.

Interaktif; yaitu proses pembelajaran harus dijalin melalui hubungan secara interaktif. Komunikasi interaktif yaitu proses pembelajaran dilakukan tidak hanya hubungan antara guru dengan siswa atau sebaliknya, melainkan hubungan banyak arah berupa hubungan siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar.

Inspiratif, yaitu pembelajaran harus dilakukan untuk mendorong siswa secara aktif dan inovatif, menemukan gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan permasalahan dan bermanfaat bagi kehidupan siswa.

Menyenangkan; yaitu suasana pembelajaran yang dapat menciptakan rasa gembira, anak senang berada di lingkungan belajar. Sehingga siswa merasa bebas dan berekspresi .

Menantang yaitu kegiatan pembelajaran tidak hanya menempatkan siswa sebagai penerima yang pasif dari berbagai ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru. Guru dapat mencoba berbagai bentuk proses belajar yang memberikan tantangan terhadap siswa.

Memotivasi peserta didik; dalam pembelajaran guru harus memerankan diri sebagai motivator dan fasilitator pmbelajaran. Melalui peran sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran siswa harus ditumbuhkan perhatian yang kuat yang timbul dari dirinya sendiri.

Prakarsa; yaitu pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil inisiatif atau prakarsa  melakukan berbagai aktivitas baik dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas dengan memanfaatkan sumber pembelajaran secara luas.

Kreatifitas; yaitu kegitan pembelajaran seharusnya mempu mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas sesuai minat dan bakatnya. Guru tidak sekedar mentransfer pengetahuan kepada siswa, namun bagaimana caranya siswa menemukan sendiri pengetahuannya.

Kemandirian; yaitu pembelajaran harus diupayakan untuk mendorong siswa memiliki kemampuan, komitmen dan percaya diri. Pendidikan melalui upaya proses pembelajaran bertujuan antara lain adalah untuk proses pendewasaan. Pendewasaan memiliki makna yang luas, mengmbil prakarsa, inisiatif, tanggung jawab, jujur dan sebagainya.

Inti dari pembelajaran yang dikemukaan di atas, mengandung bahwa siswa belajar di madrasah bukan untuk mencapai taraf kemampuan pengetahuannya saja, melainkan berkembangnya sikap dan perbuatan menuju kedewasaan.

Pada kegiatan inti pembelajaran, guru sebagai pengendali situasi kegiatan belajar mengajar dapat menerapkan berbagai strategi atau prinsip dalam menerapkan teori pembelajaran. Teori pembelajaran salah satunya adalah kontruktivisme. Teori ini mendasari bahwa setiap siswa sudah memiliki potensi yang siap untuk dikembangkan. Adapun strategi untuk menerapkan teori kontruktivisme antara lain

Contruktivism
Pendekakatan contruktivisme ini menekankan bahwa setiap peserta didik telah memiliki pengetahuan. Berpijak dari pemahaman tersebut maka seorang guru dalam memberikan materi pembelajaran harus melihat kemampuan awal peserta didik. Dari kemampuan tersebut pengembangan materi harus berawal. 

Inquiri
Pendekatan inquiri adalah pendekatan yang memberikan kesempatan atau kebebasan bagi peserta didik menemukan sendiri pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari. Guru tidak diperkenankan memberikan secara mentah dan bulat akan pengetahuan kepada siswanya. Biarkan siswa menemukan sendiri pengetahuannya. Guru bertugas memfasilitasi agar siswa dapat menemukan sendiri pemahamannya.

Questioning
Pendekatan questioning adalah pendekatan yang menuntut keaktifan peserta didik dalam menemukan berbagai pemahaman dengan cara bertanya. Bertanya tidak harus siswa terhadap guru, namun siswa dengan siswa lain, atau siswa dengan narasumber lain di luar kelas.

Learning community
yaitu menciptakan lingkungan pembelajaran yang memanfaatkan segala aspek sumber-sumber belajar yang ada dan bervariasi. Pengadaan majalah dinding, majalah madrasah, ketersedian internet untuk diakses peserta didik adalah contoh konkret dari learning community. Masyarakat belajar mengindikasikan setiap siswa dapat memperoleh pengetahuan dari segala macam sumber belajar.

Modeling
Pendekatan modeling bermakna bahwa pemahaman siswa diperoleh bukan dari menggali dari teori-teori yang ada, namun siswa dapat secara langsung melihat, mendengar dan mengamati secara nyata hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan pada materi ajar. Contoh, pada materi takbirotul ikhrom, guru tidak sekedar bercerita bagaimana takbirotul ikhrom yang benar namun mengajak siswa praktek dan melihat langsung contoh takbirotul ikhrom yang diperagakan baik oleh guru maupun orang lain.

Reflektion
Artinya siswa diajak untuk mengkaji materi yang telah dipelajari, merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan materi kemudian mengkaitkan dengan materi sebelumnya dan juga mengkaitkan dengan dunia nyata. Reflektion dapat menjadikan siswa terbiasa berfikir, menggunakan fikirannya, untuk menemukan sesuatu yang perlu untuk dipecahkan.

Autentic Assesment
Penelian yang sebenarnya, yang dibuat secara urut terukur dari berbagai aspek dan sejumlah indikator agar hasil dari proses pembelajaran dapat digambarkan secara jelas. Autentic Assesment sangat bermanfaat untuk merencanakan proses pembelajaran selanjutnya.


Ketujuh strategi diatas dapat dilaksanakan pada kegiatan inti pembelajaran sesuai dengan pendekatan Kontruktivisme. Penggunaan pendekatan yang telah diterangkan diatas bukan untuk dilakukan dalam setiap proses pembelajaran, namun disesuaikan dengan materi yang ada. 

Subscribe to receive free email updates: